Bursa AS Berfluktuasi Dengan S&P 500 Dekati 22 Bulan Terendah

Bursa saham AS berfluktuasi, dengan indeks Standard & Poor 500 mendekati level terendah sejak April 2014, karena saham-saham energi mengalami pelemahan sementara perusahaan industri dan bahan baku menghapus penurunan sebelumnya.

Pasar ekuitas sedang berusaha untuk kembali stabil setelah aksi jual dalam Indeks Nasdaq Composite terpuruk selama dua hari sejak Agustus dan penurunan awal pada hari Selasa membawanya hanya 1 persen dari bear market. Saham-saham teknologi sedikit berubah setelah menghapus penurunan 1,2 persen, sedangkan perusahaan bahan baku dan industri naik di tengah melemahnya dolar. Chevron Corp. kehilangan 2,6 persen untuk laju penurunan dalam sektor energi sementara perbankan berjuang untuk naik.

Indeks S&P 500 turun 0,3 persen menjadi 1,848.76 pada pukul 12:10 siang di New York, setelah menghapus penurunan pembukaan sebesar 1 persen. Indeks Nasdaq Composite tergelincir 0,2 persen, setelah meluncur antara keuntungan dan kerugian. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 52,67 poin, atau 0,3 persen, ke 15,974.38.(frk)

Sumber: Bloomberg

MARKET

Indeks Hong Kong Jatuh Ke Level Terendah Dalam Dua Bulan

Saham Hong Kong ditutup pada level terendah dua bulan pada hari Selasa ini, mengikuti pasar global yang lesu, karena kemerosotan harga minyak menekan kepercayaan investor menjelang kemungkinan kenaikan suku bunga AS.

Pasar juga terbebani oleh lemahnya data perdagangan China untuk bulan November yang menambah kekhawatiran atas kesehatan ekonomi.

Indeks Hang Seng turun 1,3% menjadi 21,905.13, yang merupakan penutupan terendah sejak 6 Oktober. Indeks China Enterprises turun 1,4%, ke level 9,660.87 poin.

Saham jatuh di seluruh perdangangan dengan Indeks saham energi merosot 2,8%, karena raksasa minyak seperti CNOOC dan PetroChina turun setelah harga minyak mencapai posisi terendah tujuh tahun.

Namun, operator China yang terdaftar di Hong Kong, termasuk Air China Ltd, China Eastern Airlines Corp Ltd dan China Southern Airlines Co Ltd berada di wilayah positif, karena investor berspekulasi bahwa harga minyak yang lebih rendah akan mengurangi biaya bahan bakar pesawat.(yds)

 

Sumber: MarketWatch

MARKET