Hadapi Pasar Bebas Asean, UKM Tidak Boleh Santai

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Perdagangan Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi), Hardini Puspasari mengatakan, pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM)  tidak boleh manja dan santai menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. Perubahan cepat dan kompetisi global yang semakin ketat membuat pelaku UKM harus menjadi pemain tangguh.

Peran pemerintah, ujar  Hardini, sangat diperlukan untuk meningkatkan daya saing UKM, mengingat kualitas sumber daya manusia pelakunya belum memadai. “Apalagi sebagian besar atau lebih dari 60% pelaku UKM adalah perempuan,” kata dia, Kamis (26/6).

Mereka, kata Hardini, dapat dijumpai di 55,2 juta UKM yang tersebar di seluruh Tanah Air. “Mereka tidak hanya memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi bangsa, tetapi juga ekonomi rumah tangga,” katanya.

Pelaku UKM, ujar Hardini, diharap melek dan menguasai teknologi, sehingga dapat berinovasi dengan menciptakan produk UKM yang berdaya saing tinggi.

Menurut Hardini,  penyelenggaran Pameran Interior & Craft merupakan salah satu wujud komitmen pemerintah dan dunia usaha untuk memajukan UKM. “Tanpa dukungan dari berbagai pihak sulit bagi UKM dalam negeri untuk bersaing di kompetisi global,”katanya.

Di tempat yang sama, Ketua Umum Hippi, Suryani Sidik Motik mengatakan, Hippi memiliki visi sebagai organisasi yang kuat, mandiri dan berdaya saing serta menjadikan pengusaha sebagai tulang punggung ekonomi nasional.

Sebagai organisasi yang mengusung ekonomi kebangsaan, Hippi dalam berbagai aktivitasnya selalu memperjuangkan agar produk Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan mampu menembus pasar luar negeri.